Kamis, 07 Juni 2012
ANALISIS PEMANFAATAN PASIR PANTAI ASAL WANCI KAB. WAKATOBI SEBAGAI BAHAN SUBTITUSI AGREGAT HALUS UNTUK BETON
ABSTRACT
Use of beach sand as fine aggregate substitute material of the concrete has not been done in Indonesia, for it needs further research to sand Beach can be utilizedas fully as possible as substitute materials for concrete fine aggregate. Problems in this study is how the material properties and characteristics of aggregate sand beach as fine aggregate substitute material for concrete. This type of research is experimental research. The variables in this study sample comparison based on differences in treatment sand beach. Treatment difference is that the sample is washed and than dried heated sun (Point I), are taken directly (Point II), and aheated sun dried immediately (Point III). Data collection methods used are the methods of measurement or test the experimental design. Methods of analysis usedis by way of data processing test results, then poured in the form of tables. From the research, the characteristics of origin Wanci Sand Beach District. Wakatobi has arather coarse again. From the research result can be concluded that after analysis of aggregate was sand beaches Wanci Kab.Origin. Wakatobi can be used as a substitute for fine aggregate concrete. But for the physical properties of gravity of beach sand is not included in the requirements of normal aggregate whose valueranges from 2,5 to 2,7. Compressive strength of sand beach reached only 196,22 kg/cm2 for the sample is washed and then dried directly heated sun.
Keyword: Sand Beach, Concrete, characteristic
ABSTRAK
Penggunaan Pasir Pantai sebagai bahan subtitusi agregat halus untuk beton belum banyak dilakukan di Indonesia, untuk itu perlu penelitian lebih lanjut agar Pasir Pantai dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin sebagai bahan subtitusi agregat halus untuk beton. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah sifat-sifat material dan karakteristik agregat Pasir Pantai sebagai bahan subtitusi agregat halus untuk beton. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Variabel dalam penelitian ini perbandingan sampel Pasir Pantai berdasarkan perbedaan perlakuan. Perbedaan perlakuan tersebut yaitu sampel yang dicuci kemudian dikeringkan dipanas matahari (Titik I), yang diambil langsung (Titik II), dan yang dikeringkan langsung dipanas matahari (Titik III). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode pengukuran atau tes pada rancangan eksperimen. Metode analisis yang digunakan adalah dengan cara pengolahan data hasil pengujian, selanjutnya dituangkan dalam bentuk tabel. Dari hasil penelitian, karakteristik Pasir Pantai asal Wanci Kab. Wakatobi memiliki butiran agak kasar. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa setelah dilakukan analisa agregat ternyata pasir pantai asal Wanci Kab. Wakatobi dapat digunakan sebagai bahan subtitusi agregat halus untuk beton. Namun untuk sifat-sifat fisik berat jenis pasir pantai tidak masuk dalam persyaratan agregat normal yang nilainya berkisar 2,5-2,7. Kuat tekan pasir pantai hanya mencapai 196,22 kg/cm2 untuk sampel yang dicuci kemudian dikeringkan langsung dipanas matahari.
Kata Kunci : Pasir Pantai, Beton, karakteristik
PENDAHULUAN
Dalam perkembangan dunia yang semakin maju dan serba canggih, teknologi beton mempunyai potensi yang luas dalam bidang konstruksi. Beton adalah suatu bahan bangunan yang dominan digunakan untuk konstruksi-konstruksi seperti gedung, jembatan, jalan, dermaga, dan lain-lain. Beton dibentuk dengan mencampurkan agregat kasar, agregat halus yang lazim disebut bahan pengisi, semen dan air sebagai bahan perekat.
Seiring dengan perkembangannya pembangunan Negara kita, sehingga mengakibatkan semakin meningkatnya kebutuhan bahan bangunan. Kebutuhan akan material pasir sungai dan kali saat ini makin meningkat dan persediaan makin terbatas, sehingga memungkinkan pasir pantai akan digunakan untuk bahan bangunan sebagai bahan subtitusi agregat halus, termasuk untuk konstruksi – konstruksi berat karena keterbatasan pasir dari sungai dan kali.
Material yang akan digunakan adalah agregat kasar dan halus yang berasal dari agregat alam (batu pecah dan pasir ). Akan tetapi pasir yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pasir pantai yang berfungsi sebagai bahan subtitusi agregat halus. Karena biasanya pasir yang digunakan adalah pasir sungai dan kali. Karakteristik kualitas agregat halus yang digunakan sebagai komponen stuktural beton memegang peranan penting dalam menentukan karakeristik kualitas struktur beton yang dihasilkan, sebab agregat halus mengisi sebagian besar volume beton. Pasir pantai sebagai salah satu jenis material agregat halus memiliki ketersediaan dalam kuantitas yang besar, namun secara kualitas masih perlu diteliti lebih lanjut terhadap struktur beton. Oleh karenanya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh penggunaan pasir pantai dan karakteristik yang dimilikinya sebagai subtitusi agregat halus dalam pembuatan beton terhadap karakteristik kualitas beton yang dihasilkan. Hal ini disebabkan karena tidak semua daerah memiliki sungai dan kali. Sehingga dalam penelitian ini mencoba menggunakan pasir pantai sebagai bahan subtitusi agregat halus untuk beton.
Sehubungan dengan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dan pemeriksaan terhadap penggunaan pasir pantai dengan memilih judul ‘’ ANALISIS PEMANFAATAN PASIR PANTAI ASAL WANCI KAB. WAKATOBI SEBAGAI BAHAN SUBTITUSI AGREGAT HALUS UNTUK BETON ‘’.
METODOLOGI
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan pemeriksaan beberapa material pembentuk beton yang dilakukan di Laboratorium yang diawasi langsung oleh teknisi. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kesalahan yang mungkin saja terjadi pada saat penelitian, sehingga ketelitian data hasil penelitian lebih akurat dan dapat dipertanggung jawabkan.
Lokasi Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2011 selama 20 hari di laboratorium Teknik Sipil Universitas Haluoleo.
Variabel Penelitian
Variabel-variabel pengambilan sampel pasir pantai ini terbagi atas 3 perlakuan yang berbeda yang dilakukan pada jarak yang berbeda pula. Yaitu sampel pasir pantai yang dicuci (Titik I), sampel pasir pantai yang diambil langsung (Titik II), dan sampel yang dikeringkan langsung (Titik III).
Sampel pasir pantai pada jarak 20 meter dari bibir pantai
Sampel pasir pantai pada jarak 30 meter dari bibir pantai
Sampel pasir pantai pada jarak 50 meter dari bibir pantai
Teknik Pengumpulan Data
Data-data yang digunakan dalam penyusunan tugas akhir ini terbagi atas :
Data-data primer
Data-data sekunder
Analisis Data
Menghitung tegangan hancur
σ bi=(Tekan hancur )/(Faktor usia X luas) ( kg/cm)
Menghitung tegangan hancur rata-rata
σ bi=(Σ tegangan hancur ( σ bi ))/(jumlah benda uji ( N ))
Menghitung standar deviasi
S = √(Σ ( σ bi – σ bi ))/(N-1)
Menghitung kekuatan tekan beton
σ bk= σ bm-1,64 S
Hasil Dan Pembahasan
Hasil Penelitian
Pengambilan sampel pasir pantai pada jarak 20 meter dari bibir pantai
Tabel 4.1. Hasil pemeriksaan sifat – sifat fisik Pasir Pantai Sampel titik I
No Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Satuan
1. Pemeriksaan Gradasi / Modulus Kehalusan 2,86
2. Berat Jenis
Berat jenis Bulk
Berat jenis SSD
Berat jenis Semu
Penyerapan
2,18
2,22
2,27
1,72
gr/cc
gr/cc
gr/cc
%
3. Berat Isi Lepas 0,56 gr/cm3
4. Berat Isi Padat 1,01 gr/cm3
5. Kadar Lumpur 2,49 %
6. Kadar Air 5,24 %
Tabel 4.3. Hasil pemeriksaan sifat – sifat fisik Pasir Pantai Sampel titik II
No Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Satuan
1. Pemeriksaan Gradasi / Modulus Kehalusan 2,84
2. Berat Jenis
Berat jenis Bulk
Berat jenis SSD
Berat jenis Semu
Penyerapan
2,21
2,22
2,23
0,38
gr/cc
gr/cc
gr/cc
%
3. Berat Isi Lepas 0,54 gr/cm3
4. Berat Isi Padat 0,92 gr/cm3
5. Kadar Lumpur 4,83 %
6. Kadar Air 3,32 %
Tabel 4.5. Hasil pemeriksaan sifat – sifat fisik Pasir Pantai Sampel titik III
No Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Satuan
1. Pemeriksaan Gradasi / Modulus Kehalusan 2,88
2. Berat Jenis
Berat jenis Bulk
Berat jenis SSD
Berat jenis Semu
Penyerapan
2,21
2,19
2,22
0,52
gr/cc
gr/cc
gr/cc
%
3. Berat Isi Lepas 0,62 gr/cm3
4. Berat Isi Padat 0,81 gr/cm3
5. Kadar Lumpur 3,84 %
6. Kadar Air 4,47 %
Pengambilan sampel pasir pantai pada jarak 30 meter dari bibir pantai
Tabel 4.7. Hasil pemeriksaan sifat – sifat fisik Pasir Pantai Sampel titik I
No Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Satuan
1. Pemeriksaan Gradasi / Modulus Kehalusan 2,79
2. Berat Jenis
Berat jenis Bulk
Berat jenis SSD
Berat jenis Semu
Penyerapan
2,36
2,38
2,42
1,10
gr/cc
gr/cc
gr/cc
%
3. Berat Isi Lepas 0,38 gr/cm3
4. Berat Isi Padat 0,84 gr/cm3
5. Kadar Lumpur 1,83 %
6. Kadar Air 5,35 %
Tabel 4.9. Hasil pemeriksaan sifat – sifat fisik Pasir Pantai Sampel titik II
No Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Satuan
1. Pemeriksaan Gradasi / Modulus Kehalusan 2,85
2. Berat Jenis
Berat jenis Bulk
Berat jenis SSD
Berat jenis Semu
Penyerapan
2,34
2,26
2,29
1,78
gr/cc
gr/cc
gr/cc
%
3. Berat Isi Lepas 0,89 gr/cm3
4. Berat Isi Padat 0,89 gr/cm3
5. Kadar Lumpur 2,50 %
6. Kadar Air 5,26 %
Tabel 5.1. Hasil pemeriksaan sifat – sifat fisik Pasir Pantai Sampel titik III
No Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Satuan
1. Pemeriksaan Gradasi / Modulus Kehalusan 2,72
2. Berat Jenis
Berat jenis Bulk
Berat jenis SSD
Berat jenis Semu
Penyerapan
2,15
2,20
2,26
2,24
gr/cc
gr/cc
gr/cc
%
3. Berat Isi Lepas 0,58 gr/cm3
4. Berat Isi Padat 0,77 gr/cm3
5. Kadar Lumpur 2,0 %
6. Kadar Air 5,30 %
Pengambilan sampel pasir pantai pada jarak 50 meter dari bibir pantai
Tabel 5.3. Hasil pemeriksaan sifat – sifat fisik Pasir Pantai Sampel titik I
No Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Satuan
1. Pemeriksaan Gradasi / Modulus Kehalusan 2,84
2. Berat Jenis
Berat jenis Bulk
Berat jenis SSD
Berat jenis Semu
Penyerapan
2,22
2,26
2,32
1,73
gr/cc
gr/cc
gr/cc
%
3. Berat Isi Lepas 0,59 gr/cm3
4. Berat Isi Padat 0,95 gr/cm3
5. Kadar Lumpur 2,18 %
6. Kadar Air 2,97 %
Tabel 5.5. Hasil pemeriksaan sifat – sifat fisik Pasir Pantai Sampel titik II
No Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Satuan
1. Pemeriksaan Gradasi / Modulus Kehalusan 2,71
2. Berat Jenis
Berat jenis Bulk
Berat jenis SSD
Berat jenis Semu
Penyerapan
1,99
2,02
2,05
1,32
gr/cc
gr/cc
gr/cc
%
3. Berat Isi Lepas 0,44 gr/cm3
4. Berat Isi Padat 0,84 gr/cm3
5. Kadar Lumpur 2,50 %
6. Kadar Air 2,64 %
Tabel 5.7. Hasil pemeriksaan sifat – sifat fisik Pasir Pantai Sampel titik III
No Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Satuan
1. Pemeriksaan Gradasi / Modulus Kehalusan 2,92
2. Berat Jenis
Berat jenis Bulk
Berat jenis SSD
Berat jenis Semu
Penyerapan
1,99
2,04
2,11
2,71
gr/cc
gr/cc
gr/cc
%
3. Berat Isi Lepas 0,70 gr/cm3
4. Berat Isi Padat 0,94 gr/cm3
5. Kadar Lumpur 2,36 %
6. Kadar Air 2,84 %
Perancangan Komposisi Campuran Jarak 20 Meter Dari Bibir Pantai
Perancangan komposisi campuran pasir pantai sampel 1 jarak 20 Meter dari bibir pantai
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari perancangan komposisi campuran ( semen, pasir pantai, batu pecah, dan air ) untuk perancangan mutu beton akan menggunakan proporsi agregat kasar 66,90 % dan agregat halus 33,10 %.
Perancangan komposisi campuran pasir pantai sampel II jarak 20 Meter dari bibir pantai
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari perancangan komposisi campuran ( semen, pasir pantai, batu pecah, dan air ) untuk perancangan mutu beton akan menggunakan proporsi agregat kasar 66,80 % dan agregat halus 33,20 %.
Perancangan komposisi campuran pasir pantai sampel III jarak 20 Meter dari bibir pantai
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari perancangan komposisi campuran ( semen, pasir pantai, batu pecah, dan air ) untuk perancangan mutu beton akan menggunakan proporsi agregat kasar 67,12 % dan agregat halus 32,88 %.
Perancangan Komposisi Campuran Jarak 30 Meter Dari Bibir Pantai
Perancangan komposisi campuran pasir pantai sampel 1 jarak 30 Meter dari bibir pantai
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari perancangan komposisi campuran ( semen, pasir pantai, batu pecah, dan air ) untuk perancangan mutu beton akan menggunakan proporsi agregat kasar 67,71 % dan agregat halus 32,29 %.
Perancangan komposisi campuran pasir pantai sampel II jarak 30 Meter dari bibir pantai
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari perancangan komposisi campuran ( semen, pasir pantai, batu pecah, dan air ) untuk perancangan mutu beton akan menggunakan proporsi agregat kasar 68,81 % dan agregat halus 31,19 %.
Perancangan komposisi campuran pasir pantai sampel III jarak 30 Meter dari bibir pantai
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari perancangan komposisi campuran ( semen, pasir pantai, batu pecah, dan air ) untuk perancangan mutu beton akan menggunakan proporsi agregat kasar 68,00 % dan agregat halus 32,00 %.
Perancangan Komposisi Campuran Jarak 50 Meter Dari Bibir Pantai
Perancangan komposisi campuran pasir pantai sampel 1 jarak 50 Meter dari bibir pantai
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari perancangan komposisi campuran ( semen, pasir pantai, batu pecah, dan air ) untuk perancangan mutu beton akan menggunakan proporsi agregat kasar 67,71 % dan agregat halus 32,29 %.
Perancangan komposisi campuran pasir pantai sampel II jarak 30 Meter dari bibir pantai
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari perancangan komposisi campuran ( semen, pasir pantai, batu pecah, dan air ) untuk perancangan mutu beton akan menggunakan proporsi agregat kasar 68,33 % dan agregat halus 31,67 %.
Perancangan komposisi campuran pasir pantai sampel III jarak 30 Meter dari bibir pantai
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari perancangan komposisi campuran ( semen, pasir pantai, batu pecah, dan air ) untuk perancangan mutu beton akan menggunakan proporsi agregat kasar 66,35 % dan agregat halus 33,65 %.
Mix Design Beton Mutu K. 200
Pemakaian bahan Mix design dengan menggunakan sampel pasir pantai jarak 20 Meter dari bibir pantai
Pemakaian bahan Mix design dengan menggunakan sampel 1 pasir pantai jarak 20 Meter dari bibir pantai
Semen = 360,65 kg
Air = 192,68 Ltr
Pasir pantai = 580,07 kg
Batu pecah = 1121,6 kg
Pemakaian bahan Mix design dengan menggunakan sampel II pasir pantai jarak 20 Meter dari bibir pantai
Semen = 360,65 kg
Air = 196,48 Ltr
Pasir pantai = 577,91 kg
Batu pecah = 1119,97 kg
Pemakaian bahan Mix design dengan menggunakan sampel III pasir pantai jarak 20 Meter dari bibir pantai
Semen = 360,65 kg
Air = 190,48 Ltr
Pasir pantai = 578,47 kg
Batu pecah = 1125,23 kg
Pemakaian bahan Mix design dengan menggunakan sampel pasir pantai jarak 30 Meter dari bibir pantai
Pemakaian bahan Mix design dengan menggunakan sampel 1 pasir pantai jarak 30 Meter dari bibir pantai
Semen = 360,65 kg
Air = 187,91 Ltr
Pasir pantai = 615,61 kg
Batu pecah = 1225,84 kg
Pemakaian bahan Mix design dengan menggunakan sampel II pasir pantai jarak 30 Meter dari bibir pantai
Semen = 360,65 kg
Air = 194,15 Ltr
Pasir pantai = 552,89 kg
Batu pecah = 1167,31 kg
Pemakaian bahan Mix design dengan menggunakan sampel III pasir pantai jarak 30 Meter dari bibir pantai
Semen = 360,65 kg
Air = 195,92 Ltr
Pasir pantai = 560,09 kg
Batu pecah = 1143,35 kg
Pemakaian bahan Mix design dengan menggunakan sampel pasir pantai jarak 50 Meter dari bibir pantai
Pemakaian bahan Mix design dengan menggunakan sampel 1 pasir pantai jarak 50 Meter dari bibir pantai
Semen = 360,65 kg
Air = 206,56 Ltr
Pasir pantai = 557,52 kg
Batu pecah = 1145,28 kg
Pemakaian bahan Mix design dengan menggunakan sampel II pasir pantai jarak 50 Meter dari bibir pantai
Semen = 360,65 kg
Air = 206,35 Ltr
Pasir pantai = 529,63 kg
Batu pecah = 1118,37 kg
Pemakaian bahan Mix design dengan menggunakan sampel III pasir pantai jarak 50 Meter dari bibir pantai
Semen = 360,65 kg
Air = 212,21 Ltr
Pasir pantai = 559,53 kg
Batu pecah = 1092,37 kg
Kuat Tekan
Kuat tekan untuk sampel pasir pantai jarak 20 Meter dari bibir pantai
Kuat tekan untuk sampel 1 pasir pantai jarak 20 Meter dari bibir pantai mencapai kuat tekan 169,69 kg/cm2 .
Kuat tekan untuk sampel II pasir pantai jarak 20 Meter dari bibir pantai mencapai kuat tekan 113,54 kg/cm2 .
Kuat tekan untuk sampel III pasir pantai jarak 20 Meter dari bibir pantai mencapai kuat tekan 134,51 kg/cm2.
Kuat tekan untuk sampel pasir pantai jarak 30 Meter dari bibir pantai
Kuat tekan untuk sampel 1 pasir pantai jarak 30 Meter dari bibir pantai mencapai kuat tekan 180,79 kg/cm2 .
Kuat tekan untuk sampel II pasir pantai jarak 20 Meter dari bibir pantai mencapai kuat tekan 145,62 kg/cm2 .
Kuat tekan untuk sampel III pasir pantai jarak 20 Meter dari bibir pantai mencapai kuat tekan 160,22 kg/cm2.
Kuat tekan untuk sampel pasir pantai jarak 50 Meter dari bibir pantai
Kuat tekan untuk sampel 1 pasir pantai jarak 50 Meter dari bibir pantai mencapai kuat tekan 196,22 kg/cm2 .
Kuat tekan untuk sampel II pasir pantai jarak 20 Meter dari bibir pantai mencapai kuat tekan 180,79 kg/cm2 .
Kuat tekan untuk sampel III pasir pantai jarak 20 Meter dari bibir pantai mencapai kuat tekan 191,07 kg/cm2.
KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa:
Kuat tekan rata-rata yang dicapai sampel pasir pantai yang dicuci dengan air tawar kemudian dikeringkan langsung di panas matahari pada jarak 50 meter dari bibir pantai mencapai 196,22 kg/cm2 atau 19,622 Mpa. Hal ini membuktikan bahwa pasir pantai sebagai subtitusi agregat halus untuk beton dapat dimanfaatkan.
Dilihat dari sifat fisik agregat pasir pantai, untuk berat jenisnya tidak memenuhi dalam persyaratan agregat normal yang berkisar 2,5-2,7. Tetapi untuk pengujian fisik lainnya masuk persyaratan. Adapun pengujian itu adalah sebagai berikut:
Pemeriksaan analisa saringan
Pemeriksaan kadar lumpur
Pemeriksaan kadar air
Pemeriksaan berat isi
Dilihat dari sifat agregat kasar (batu pecah), memenuhi semua kriteria uji fisik laboratorium dalam perancangan beton. Adapun pengujian itu adalah sebagai berikut:
Pemeriksaan analisa saringan
Pemeriksaan kadar lumpur
Pemeriksaan kadar air
Pemeriksaan berat isi
Pemeriksaan berat jenis
Pemeriksaan nilai abrasi dengan mesin Los Angeles.
DAFTAR PUSTAKA
ACI Manual of Concrete Practice part I-1996, American Concrete Institute, Detroit. 1996.
Aji, P, dan Purwono R,2010,” Pengendalian Mutu Beton “ITSPress, Surabaya.
Mulyono, T, 2004, 2005, “ Teknologi Beton “ Penerbit Andi, Yogyakarta.
Segel, R, P. Kole dan Gideon H, Pedoman Pengerjaan Beton Berdasarkan SK.SNI.T-15-1991-03,CUR Seri Beton 2,Erlangga, Jakarta, 1993.
Tjokrodimuljo, K, 2007,” Teknologi Beton “, Teknik Sipil UGM Yogyakarta.
Fungsi media massa
Persahabatan-positif:
Dalam menjalani suatu persahabatan dengan teman dapat membuat kita mengetahui dan mengenal dengan baik tentang dia.dalam hal ini,jika kita mempunyai masalah yang tidak dapat diselesaikan sendiri,kita dapat meminta saran untuk jalan keluar dari masalah yang kita hadapi.dan dengan adanya media massa,dapat mempererat hubungan persahabatan, meskipun itu sahabat jarak jauh.
-negatif :
Dalam menjalani ikatan persahabatan kadang antara sahabat masih banyak rahasia yang tersembunyi dalam hal ini karena tidak adanya sifat saling terbuka,sehingga kadang terjadi salah paham.
Persaudaraan –positif :
Dalam ikatan persaudaraan membuat kita lebih dekat dan mengenal dengan baik tentang seseorang,baik keluarga sendiri maupun orang lain.
-negatif :
Dengan adanya media massa,tidak semuanya berjalan baik-baik saja karena masih ada antara satu dan yang lainnya yang sifat masing-masing indifidu dapat membuat tidak nyaman pihak yang lain.
Agama –positif :
Dalam hal ini agama sangat penting karena didalamnya terdapat sesuatu yang harus dilaksanakan dan sesuatu yang dilarang menurut agama.
-negatif:
Dengan adanya media massa,dalam agama madsih banyak terdapat langgaran-langgaran yang dilakukan oleh masing-masing individu dalam menjalankan agama yang diyakininya sehingga dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.misalnya dengan adanya media massa,masih bayak dikalangan masyarakat yang menggunakan media massa dengan hal-hal yang tidak diinginkan seperti menyebarkan video-vidio porno,bahkan mendonload fidio-fidio yang berbau porno
.
Ekonomi – positif :
Ekonomi sangat penting bagi setiap indifidu karena hal ini juga sagat mempengaruhi kehidupan.dengan adanya media massa,bias saja seseorang dapat memperoleh informasi pentng seperti infirmasi mengenai lowongan pekerjaan,ataupun yang lainnya.
-negatif :
Ekonomi dapat membuat seseorang melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan.dengan adanya media massa,seseorang dapat memanfaatkan hal ini dengan melakukan apa saja demi untuk mendapatkan uang.
Masyarakat- positif :
Dalam hidup bermasyarakat,membuat kita akan dekat dengan yang lainnya.mungkin dengan adanya media massa ini,hidup masyarakat dalam melakukan pekerjaan yang berat akan terasa lebih ringan karena adanya gotong royong.
Negative :
Dengan adanya media massa maka akan berdampak buruk bagi masyarakat misalnya menonton film/sinetron yang berbau kejahatan maka itu akan berdampak buruk bagi masyarakat khusunya dikalangan remaja maupun anak-anak.
Pendidikan – positif :
Dengan adanya media massa,dalam pendidikan yang dilaksanakan oleh seseorang dapat membuat ia lebih mengetahui hal-hal yang sebelumnya tidak diktahui dan dapat membuat seseorang berkreasi dalam memikirkan sesuatu yang menguntungan diri kita.
-negatif :
Dengan adanya media massa bisa menimbulkan kemalasan bagi peserta didik untuk belajar utamanya media televisi,karena adanya televise,pelajaran-pelajaran yang telah disampaikan,tugas pelajaran yang diberikan akan terabaikan karena akan mengutamakan untuk menonton televisi.
Orang tua : - positif :
Orang tua selalu berusaha yang terbaik untuk anak-anaknya dalam memenuhi segala sesuatu,baik dalam hal pendidikan maupun dalam yang yang bersifat positif.dengan adanya media massa,dapat memberikan informasi atau pelajaran kepada mereka.
-negatif :
Dengan adanya media massa,seperti majalah yang mengandung informasi tentang harga-harga suatu barang,dan barang tersebut disukai oleh orang tua,mereka akan berusaha untuk mendapatkan barang tersebut dengan menghabiskan banyak uang.
1 KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN DI PUSKESMAS BRINGIN KABUPATEN SEMARANG
(Analisis Tingkat Kepuasan Masyarakat)
RESUME SKRIPSI
Disusun untuk memenuhi persyaratan pengambilan Transkip Akademis
Penyusun:
Nama: Dinik Retnowati
NIM:D2A004026
JURUSAN ADMINISTRASI PUBLIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2008
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Manusia adalah faktor kunci keberhasilan dari suatu pembangunan. Untuk menciptakan manusia yang berkualitas diperlukan suatu derajat kesehatan manusia yang prima sehingga dalam hal ini mutlak diperlukan pembangunan kesehatan. Untuk mendukung pencapaian pembangunan kesehatan pemerintah telah menyediakan beberapa sarana/fasilitas kesehatan beserta tenaga kesehatannya. Salah satu fasilitas kesehatan yang banyak dimanfaatkan masyarakat adalah Puskesmas. Sebagai ujung tombak pelayanan dan pembangunan kesehatan di Indonesia maka Puskesmas perlu mendapatkan perhatian terutama berkaitan dengan mutu pelayanan kesehatan Puskesmas sehingga dalam hal ini Puskesmas terlebih pada Puskesmas yang dilengkapi dengan unit rawat inap dituntut untuk selalu meningkatkan keprofesionalan dari para pegawainya serta meningkatkan fasilitas/sarana kesehatannya untuk memberikan kepuasan kepada masyarakat pengguna jasa layanan kesehatan. Dalam penelitian ini, penulis mencoba melakukan pengukuran mengenai tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di Puskesmas. Dan diantara 25 Puskesmas yang ada di Kabupaten Semarang penulis memilih Puskesmas Bringin sebagai obyek penelitian karena Puskesmas Bringin telah dilengkapi dengan Unit Rawat Inap.
Dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas, Puskesmas Bringin masih mempunyai beberapa kendala, diantaranya:
1. Kekurangan petugas kesehatan
Berdasarkan standar yang telah ditetapkan seorang dokter gigi seharusnya dibantu oleh 2 orang perawat gigi, tetapi dalam kenyataan di Puskesmas Bringin hanya ada 1 orang perawat gigi. Selain itu Puskesmas Bringin hanya memiliki seorang analis padahal dibutuhkan 2 orang analis.
2. Persediaan obat yang belum mencukupi
Jumlah obat generik yang tersedia belum mampu mencukupi kebutuhan yang ada sedangkan persediaan obat esensial telah melebihi dari jumlah yang dibutuhkan.
3. Dilihat dari segi fisik bangunan
Terlihat pada atap lantai 1 berjamur akibat pipa air pada lantai 2 bocor, sehingga akibatnya kamar mandi tak bisa difungsikan. Sarana dan prasarana pada ruangan rawat inap juga tampak usang, berdebu dan kurang terawat.
Adanya unit pelayanan rawat inap ini tentunya akan menambah beban kerja dari Puskesmas Bringin sehingga mengharuskan Puskesmas Bringin untuk lebih meningkatkan keprofesionalan dari para pegawainya serta meningkatkan fasilitas/sarana kesehatan yang ada karena untuk menyelenggarakan Unit Rawat Inap bagi sebuah Puskesmas bukan suatu hal yang mudah dan membutuhkan komitmen dari segenap elemen-elemen di dalam Puskesmas Bringin untuk bekerja sama menciptakan pelayanan kesehatan yang berkualitas.
Dengan demikian penelitian mengenai “ KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN DI PUSKESMAS BRINGIN KABUPATEN SEMARANG (Analisis Tingkat Kepuasan Masyarakat) ” menjadi sangat penting untuk dilakukan karena hasil penelitian tersebut dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan sehingga diharapkan dapat tercipta pelayanan kesehatan Puskesmas yang semakin berkualitas.
B. PERUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana kualitas pelayanan kesehatan di Puskesmas Bringin KabupatenSemarang?
2. Bagaimana tingkat kepuasan masyarakat terhadap kualitas pelayanan diPuskesmas Bringin Kabupaten Semarang?
3. Bagaimana tingkat kesesuaian antara tingkat kepentingan dengan tingkatkinerja?
C. TUJUAN PENELITIAN
•Untuk mengetahui kualitas pelayanan kesehatan di Puskesmas Bringin Kabupaten Semarang.
•Untuk mengetahui tingkat kepuasan masyarakat terhadap kualitas pelayanan kesehatan di Puskesmas Bringin Kabupaten Semarang.
•Untuk mengetahui tingkat kesesuaian antara tingkat kepentingan dengan tingkat kinerja dari unsur-unsur pelayanan?
D. KEGUNAAN PENELITIAN
•Bagi peneliti, sebagai bentuk penerapan/aplikasi dari ilmu pengetahuan yangtelah diperoleh di dalam bangku perkuliahan.
•Bagi masyarakat, IKM dapat digunakan sebagai gambaran tentang pelayanan Puskesmas Bringin Kabupaten Semarang.
•Bagi instansi, sebagai bahan masukan Puskesmas Bringin Kabupaten Semarang dalam pengambilan keputusan guna meningkatkan kinerjanya.
E. KERANGKA TEORI
a. Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan adalah kegiatan pelayanan yang diberikan oleh penyelenggara pelayanan publik yang mampu memenuhi harapan, keinginan, dan kebutuhan serta mampu memberikan kepuasan kepada masyarakat luas. Puskesmas sebagai salah satu unit pelaksana teknis Dinas kabupaten/kota berperan di dalam menyelenggarakan pelayanan publik yang berkualitas kepada masyarakat dengan melakukan berbagai upaya untuk memenuhi segala harapan, keinginan, dan kebutuhan serta mampu
memberikan kepuasan bagi masyarakat.
b. Pelayanan Kesehatan
Azrul Azwar (1988:40) mendefinisikan pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan mengobati penyakit serta memulihkan kesehatan perseorangan, kelompok, dan ataupun masyarakat. Azrul Azwar (1994:21) menyatakan bahwa kualitas pelayanan kesehatan adalah menunjuk pada tingkat kesempurnaan penampilan pelayanan
kesehatan yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kesehatan sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk, tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan standar dan kode etik profesi yang telah ditetapkan.
c. Kepuasan Masyarakat
Dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan pihak penyedia dan pemberi layanan harus selalu berupaya untuk mengacu kepada tujuan utama pelayanan, yaitu pencapaian kepuasan konsumen (consumer satisfaction) atau kepuasan pelanggan (costumer satisfaction). Oliver (dalam Koentjoro, 2007:10) menyatakan bahwa kepuasan merupakan respon pelanggan terhadap dipenuhinya kebutuhan dan harapan.
Berikut di bawah ini adalah konsep kepuasan pelanggan.
Gambar 1.1 Konsep Kepuasan Pelanggan
Sumber: Fandy Tjiptono, 2005: 130
Kepuasan pelanggan terbentuk dari penilaian pelanggan terhadap kinerja suatu perusahaan dalam merumuskan tujuan dan manfaat produk atau pelayanan yang diberikan dalam memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan pelanggan. Dengan demikian, kepuasan terjadi karena adanya suatu pemenuhan terhadap apa yang dibutuhkan dan diharapkan oleh pelanggan. Dalam usaha memberikan pelayanan kepada pelanggan, pihak penyedia jasa tidak selamanya mampu memenuhi harapan pelanggan, karena:
Gambar 1.2 Penyebab Utama Tidak Terpenuhinya Harapan Pelanggan
Sumber: Fandy Tjiptono, 2005:131
Salah satu penyebab tidak terpenuhinya harapan pelanggan adalah
karena kesalahan pelanggan dalam mengkomunikasikan jasa yang diinginkan.
Pelanggan tidak mampu menyampaikan apa yang menjadi keinginan dan
harapannya, sehingga hal ini berakibat penyedia layanan tidak mampu
memenuhi apa yang menjadi harapan dari pelanggan.
d. Indeks Kepuasan Masyarakat
Indeks Kepuasan Masyarakat adalah data dan informasi tentang
tingkat kepuasan masyarakat yang diperoleh dari hasil pengukuran secara
kuantitatif dan kualitatif atas pendapat masyarakat dalam memperoleh
pelayanan dari aparatur penyelenggara pelayanan publik dengan membandingkan antara harapan dan kebutuhannya (Keputusan MENPAN Nomor 25/2004).
Berdasarkan prinsip pelayanan sebagaimana telah ditetapkan dalam
Keputusan MENPAN Nomor 25 Tahun 2004, terdapat 14 unsur minimal yang
harus ada untuk dasar pengukuran indeks kepuasan masyarakat antara lain:
1. Prosedur pelayanan
2. Persyaratan pelayanan
3. Kejelasan petugas pelayanan
4. Kedisiplinan petugas
pelayanan
5. Tanggung jawab petugas
pelayanan
6. Kemampuan petugas
pelayanan
7. Kecepatan pelayanan
8. Keadilan mendapatkan
pelayanan
9. Kesopanan dan keramahan
petugas
10. Kewajaran biaya pelayanan
11. Kepastian biaya pelayanan
12. Kepastian jadwal pelayanan
13. Kenyamanan lingkungan
14. Keamanan pelayanan
Puskesmas sebagai salah satu instansi pemerintah yang berperan
dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dituntut
untuk meningkatkan kualitas kinerja dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat sehingga pelayanan yang diberikan mampu memenuhi kebutuhan,
keinginan, dan harapan masyarakat serta mampu memberikan kepuasan.
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2000
tentang Program Pembangunan Nasional (PROPENAS), salah satu upaya
untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik adalah dengan menyusun
9
indeks kepuasan masyarakat sebagai tolok ukur untuk menilai tingkat kualitas
pelayanan. Dengan demikian data indeks kepuasan masyarakat dapat menjadi
bahan penilaian terhadap unsur pelayanan yang masih perlu perbaikan dan
menjadi pendorong setiap unit penyelenggara pelayanan untuk meningkatkan
kualitas pelayanannya.
F. Definisi Konseptual
Kualitas pelayanan adalah kegiatan pelayanan yang diberikan oleh
penyelenggara pelayanan publik yang mampu memenuhi harapan, keinginan,
dan kebutuhan serta mampu memberikan kepuasan kepada masyarakat luas.
Kepuasan pelanggan adalah suatu keadaan dimana kebutuhan, keinginan, dan
harapan pelanggan dapat terpenuhi melalui produk atau jasa yang dikonsumsi.
IKM adalah data dan informasi tentang tingkat kepuasan masyarakat yang
diperoleh dari hasil pengukuran secara kuantitatif dan kualitatif atas pendapat
masyarakat dalam memperoleh pelayanan dari aparatur penyelenggara
pelayanan publik dengan membandingkan antara harapan dan kebutuhannya.
G. Definisi Oerasional
Tingkat kepuasan masyarakat pengguna jasa pelayanan kesehatan pada
Puskesmas Bringin Kabupaten Semarang diukur dengan menggunakan 14 unsur
pelayanan dalam Kepmenpan No.25/2004 Tentang IKM yang dijabarkan ke
dalam sub-sub indikator, sebagai berikut:
1. Prosedur pelayanan
- Tingkat kemudahan alur pelayanan yang diberikan
- Tingkat kesederhanaan alur pelayanan yang diberikan
10
2. Persyaratan pelayanan
- Kemudahan persyaratan teknis dan administratif yang harus dipenuhi
- Kesederhanaan persyaratan teknis dan administratif yang harus dipenuhi
3. Kejelasan petugas pelayanan
- Kejelasan petugas yang memberikan pelayanan
- Kepastian petugas yang memberikan pelayanan
4. Kedisiplinan petugas
- Tingkat kehadiran petugas yang memberikan pelayanan
- Tingkat keberadaan petugas pada saat jam pelayanan
- Intensitas penundaan pekerjaan yang dilakukan oleh petugas
5. Tanggung jawab petugas
- Tanggung jawab petugas dalam memberikan pelayanan
6. Kemampuan petugas pelayanan
- Tingkat keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki
- Kejelasan informasi yang disampaikan
7. Kecepatan pelayanan
- Tingkat kecepatan petugas dalam memberikan pelayanan
8. Keadilan mendapatkan pelayanan
- Tingkat keadilan petugas dalam memberikan pelayanan
- Pemberian pelayanan terhadap semua pasien tanpa pilih-pilih
9. Kesopanan dan keramahan petugas
- Tingkat kesopanan petugas dalam memberikan pelayanan
- Tingkat keramahan petugas dalam memberikan pelayanan
11
10. Kewajaran biaya pelayanan
- Tingkat kewajaran biaya yang dikeluarkan
11. Kepastian biaya pelayanan
- Kesesuaian antara biaya yang dibayarkan dengan biaya yang ditetapkan
- Adanya rincian biaya yang jelas dan pasti
12. Kepastian jadwal pelayanan
- Tingkat kesesuaian jam pelayanan dengan jadwal
13. Kenyamanan lingkungan
- Tingkat kerapian pengaturan sarana dan prasarana
- Tingkat kebersihan ruangan
- Kenyamanan ruang tunggu
14. Keamanan pelayanan
- Tingkat kelengkapan sarana prasarana kesehatan
- Kebersihan peralatan medis
H. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan tipe penelitian jenis deskriptif kuantitatif.
Populasinya adalah seluruh masyarakat pengguna jasa pelayanan Puskesmas
Bringin Kabupaten Semarang. Besarnya responden yang dijadikan sampel
sebanyak 150 orang dari jumlah populasi penerima layanan dengan dasar
(Keputusan MENPAN No.25/2004): (jumlah unsur + 1) x 10 = jumlah responden
(14 + 1) x 10 = 150 responden. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini
adalah accidental sampling. Data penelitian yang dipakai yaitu data primer dan
data sekunder. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain
12
observasi, kuesioner, wawancara, dokumen, dan studi pustaka. Tahap pengolahan
data dilakukan melalui proses editing, coding, dan tabulasi.
Dalam penelitian ini digunakan skala likert. Skala Likert terdiri dari empat
tingkatan, yaitu:
Penilaian Tingkat Kepentingan Kinerja Pelayanan
4 Sangat penting Sangat baik
3 Penting baik
2 Kurang penting Kurang baik
1 Tidak penting Tidak baik
Penelitian ini menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Nilai IKM
dihitung dengan rumus sebagai berikut:
IKM = Total dari nilai persepsi per unsur x Nilai penimbang
Total unsur yang terisi
Tabel 1.1 Nilai Persepsi, Interval IKM, Interval Konversi IKM,
Mutu Pelayanan dan Kinerja Unit Pelayanan
NILAI
PERSEPSI
NILAI
INTERVAL
IKM
NILAI
INTERVAL
KONVERSI
IKM
MUTU
PELAYANAN
KINERJA
UNIT
PELAYANAN
1 1,00-1,75 25-43,75 D Tidak baik
2 1,76-2,50 43,76-62,50 C Kurang baik
3 2,51-3,25 62,51-81,25 B Baik
4 3,26-4,00 81,26-100,00 A Sangat baik
Tingkat kesesuaian adalah hasil perbandingan skor penilaian
pelaksanaan/kinerja dengan skor penilaian tingkat kepentingan. Adapun rumus
tingkat kesesuaian adalah sebagai berikut:
Tki = Xi x 100%
Yi
13
Gambar 1.1
Diagram Kartesius
Y
Prioritas Utama Pertahankan Prestasi
(A) (B)
Y
Prioritas Rendah Berlebihan
(C) (D)
X X
K
EPENT
INGAN
KINERJA
14
BAB II
GAMBARAN UMUM
Puskesmas Bringin adalah suatu organisasi kesehatan fungsional yang
merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran
serta masyarakat disamping memberikan pelayanan secara menyeluruh dan
terpadu kepada masyarakat di wilayah Kecamatan Bringin dalam bentuk kegiatan
pokok.
1) Jenis Pelayanan Puskesmas
Puskesmas Bringin mempunyai 2 jenis kegiatan yaitu Rawat Inap dan
Rawat Jalan. Jenis-jenis pelayanan yang ditawarkan Puskesmas Bringin antara
lain Instalasi Gawat Darurat, Balai Pengobatan Umum, Kesehatan Ibu Anak dan
KB, Imunisasi, Laboratorium, Pengobatan gigi, dan Konsultasi Gizi dan
Kesehatan Lingkungan.
2) Prosedur Pelayanan
Upaya yang dilakukan untuk mempermudah pelayanan kesehatan di
Puskesmas Bringin yaitu dengan menetapkan prosedur alur penanganan pasien.
Gambar 2.1 Alur Pelayanan Pasien
Sumber: Puskesmas Bringin
Tidak Bisa Ditangani Bisa Ditangani
Rujuk Rumah Sakit Rawat Inap Apotik
Sembuh Pulang
Pasien Loket Rekam Medis Pelayanan
15
3) Persyaratan Administrasi
Syarat administrasi yang diperlukan masyarakat untuk mendapatkan
pelayanan di Puskesmas yaitu dengan membawa Kartu Berobat jika sudah punya
jika belum punya cukup menunjukkan KTP untuk segera dibuatkan Kartu
Berobat.
4) Jadwal Pelayanan
Pelayanan Puskesmas Bringin dilakukan pada jam-jam sebagai berikut:
•Senin-Kamis : 08.00-12.00
•Jumat : 08.00-10.00
•Sabtu : 08.00-10.30
5) Tarif Retribusi Pelayanan Kesehatan
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Semarang Nomor 9 Tahun 2003
Tentang Pelayanan Kesehatan pada Pusat Kesehatan Masyarakat di Kabupaten
Semarang membebaskan retribusi pelayanan kesehatan.
16
BAB III
PEMBAHASAN
A. ANALISIS IKM
Nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) per unsur pelayanan pada
Puskesmas Bringin Kabupaten Semarang adalah:
Tabel 3.1 Nilai Per Unsur Pelayanan
No. Unsur Pelayanan Nilai Unsur
Pelayanan
Kualitas
Pelayanan
1. Prosedur Pelayanan 3,53 Sangat baik
2. Persyaratan Pelayanan 3,51 Sangat baik
3. Kjelasan Petugas Pelayanan 3,17 Baik
4. Kedisiplinan Petugas Pelayanan 3,53 Sangat baik
5. Tanggung jawab Petugas
Pelayanan
3,09 Baik
6. Kemampuan Petugas Pelayanan 3,25 Baik
7. Kecepatan Pelayanan 3,08 Baik
8. Keadilan mendapatkan
Pelayanan
3,80 Sangat baik
9. Kesopanan dan Keramahan
Petugas
3,25 Baik
10. Kewajaran Biaya Pelayanan 3,2 Baik
11. Kepastian Biaya Pelayanan 3,17 Baik
12. Kepastian Jadwal Pelayanan 3,07 Baik
13. Kenyamanan Lingkungan 2,68 Baik
14. Keamanan Pelayanan 3,76 Sangat baik
Rata-rata 3,29 Sangat baik
Sumber: Diolah dari data hasil kuesioner
Sehingga Nilai Indeks Pelayanan pada Puskesmas Bringin Kabupaten
Semarang dapat dihitung sebagai berikut:
Nilai Indeks = (3,53 x 0,071) + (3,51 x 0,071) + (3,17 x 0,071) + (3,53 x
0,071) + (3,09 x 0,071) + (3,25 x 0,071) + (3,08 x 0,071) +
(3,80 x 0,071) + (3,25 x 0,071) + (3,2 x 0,071) + (3,17 x
0,071) + (3,07 x 0,071) + (2,68 x 0,071) + (3,76 x 0,071)
17
= 0,251 + 0,249 + 0,225 + 0,251 +0,219 + 0,231 + 0,219 + 0,27
+ 0,231 + 0,227 + 0,225 + 0,218 + 0,19 + 0,267
= 3,273
Dengan demikian nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) dapat
diketahui sebagai berikut:
a. Nilai IKM setelah dikonversi = Nilai Indeks x Nilai Dasar
= 3,273 x 25
= 81,825
b. Mutu Pelayanan = A
c. Kinerja Unit Pelayanan = SANGAT BAIK
Kelemahan yang dimiliki Puskesmas Bringin:
•Kenyamanan Lingkungan ( dengan nilai unsur 2,68 )
Kelebihan yang dimiliki oleh Puskesmas Bringin yaitu:
•Prosedur pelayanan (dengan nilai unsur sebesar 3,53)
•Persyaratan Pelayanan (dengan nilai unsur sebesar 3,51)
•Kedisiplinan petugas pelayanan (dengan nilai unsur sebesar 3,53)
•Keadilan mendapatkan pelayanan (dengan nilai unsur sebesar 3,8)
•Keamanan lingkungan (dengan nilai unsur sebesar 3,76)
18
B. ANALISIS TINGKAT KESESUAIAN
Hasil perhitungan tingkat kesesuaian masing-masing unsur adalah:
Tabel 3.2 Tingkat Kesesuaian Kinerja dan Kepentingan Per Unsur
Pelayanan
No. Unsur Pelayanan Penilaian
Kinerja
(X)
Penilaian
Kepentingan
(Y)
X Kualitas
Pelayanan Y Tingkat
Kesesuaian
(%)
1. Prosedur Pelayanan 529 544 3,53 Sangat Baik 3,63 97,24
2. Persyaratan Pelayanan 526 539 3,51 Sangat Baik 3,59 97,59
3. Kejelasan Petugas 475 499 3,17 Baik 3,33 95,19
4. Kedisiplinan Petugas 530 557 3,53 Sangat Baik 3,71 95,15
5. Tanggung jawab Petugas 463 498 3,09 Baik 3,32 92,97
6. Kemampuan Petugas 488 551 3,25 Baik 3,67 88,57
7. Kecepatan Pelayanan 462 496 3,08 Baik 3,31 93,15
8. Keadilan mendapatkan
Pelayanan
570 573 3,8 Sangat Baik 3,82 99,48
9. Kesopanan dan
Kearamahan
487 552 3,25 Baik 3,68 88,22
10. Kewajaran biaya 480 491 3,2 Baik 3,27 97,76
11. Kepastian biaya 475 540 3,17 Baik 3,6 87,96
12. Kepastian jadwal 460 540 3,07 Baik 3,6 85,19
13. Kenyamanan Lingkungan 402 567 2,68 Baik 3,78 70,9
14. Keamanan Pelayanan 564 577 3,76 Sangat Baik 3,85 97,75
X , Y , Rata2 Kesesuaian
3,29 Sangat Baik 3,58 91,85
Sumber: Diolah dari hasil Kuesioner
Nilai kesesuaian tertinggi pada unsur pelayanan di atas terletak pada unsur
keadilan mendapatkan pelayanan sedangkan nilai kesesuaian terendah terletak
pada unsur kenyamanan lingkungan.
C. ANALISIS DIAGRAM KARTESIUS
Adapun untuk mengetahui unsur-unsur yang harus ditingkatkan
kinerjanya maupun unsur-unsur yang harus dipertahankan kinerjanya dapat
dilihat dalam Diagram Kartesius berikut ini:
19
Gambar 3.1.
1. Kuadran A
Dianggap sangat penting oleh masyarakat tetapi kinerjanya belum
memuaskan sehingga perlu mendapatkan prioritas perbaikan, antara lain:
Kemampuan Petugas Pelayanan (U6), Kesopanan dan Keramahan Petugas
Pelayanan (U9), Kepastian biaya pelayanan (U11), Kepastian Jadwal
Pelayanan (U12), dan Kenyamanan Lingkungan (U13).
2. Kuadran B
Unsur-unsur pelayanan telah berhasil dilaksanakan dengan baik,
untuk itu perlu dipertahankan, antara lain: Prosedur Pelayanan (U1),
DIAGRAM KARTESIUS
Penilaian Kinerja
2,6 2,8 3,0 3,2 3,4 3,6 3,8 4,0
Tingkat Kepentingan
3,9
3,8
3,7
3,6
3,5
3,4
3,3
3,2
3,58
3,29
13
12
11
6
9
7
5 3
10
2
1
4
14 8
A B
C D
Prioritas
Utama
Pertahankan
Prestasi
Prioritas
Rendah
Berlebihan
(3,29 , 3,58)
20
Persyaratan Pelayanan (U2), Kedisiplinan petugas pelayanan (U4),
Keadilan Dalam Mendapatkan Pelayanan (U8), dan Keamanan Pelayanan
(U14).
3. Kuadran C
Dianggap kurang penting pengaruhnya pada masyarakat atau biasa
saja, antara lain: Kejelasan Petugas Pelayanan (U3), Tanggung Jawab
Petugas Pelayanan (U5), Kecepatan Pelayanan (U7), dan Kewajaran
Biaya Pelayanan (U10).
4. Kuadran D
Masyarakat kurang menganggap penting tetapi justru pelaksanaan
kinerjanya sangat memuaskan. Berdasarkan hasil penelitian, tidak satu
unsur pun yang termasuk dalam kuadran D.
21
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kualitas pelayanan kesehatan pada Puskesmas Bringin Kabupaten
Semarang termasuk dalam kategori SANGAT BAIK, dengan memperoleh nilai
IKM sebesar 81,825 dengan mutu pelayanan A.
B. SARAN
Puskesmas Bringin perlu melakukan perbaikan pada beberapa unsur
pelayanan, antara lain:
1. Kemampuan Petugas Pelayanan
- Meningkatkan kemampuan pegawai melalui pendidikan dan pelatihan.
2. Kesopanan dan keramahan Petugas Pelayanan
- Meningkatkan perilaku yang sopan dan ramah pada petugas.
3. Kepastian Biaya Pelayanan
- Meletakkan setiap informasi di tempat yang strategis.
4. Kepastian Jadwal Pelayanan
- Melakukan pengawasan memantau jam buka dan tutup loket.
5. Kenyamanan Lingkungan
- Pemberian tempat sampah dan slogan-slogan.
- Penataan terhadap sarana dan prasarana
- Menambahan kursi atau bangku pada ruang tunggu.
22
DAFTAR PUSTAKA
Referensi Non Buku
Azwar, Azrul. 1988. Pengantar Administrasi Kesehatan. Jakarta: PT Binarupa
Aksara.
Danim, Sudarwan. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung: Pustaka Setia.
Koentjoro, Tjahjono. 2007. Regulasi Kesehatan di Indonesia. Yogyakarta:
ANDI.
Lupiyoadi, Rambat dan A. Hamdani. 2006. Manajemen Pemasaran Jasa.
Jakarta: Salemba Empat.
Purwanto, Erwan Agus dan Dyah Ratih Sulistyastuti. 2007. Metode
Penelitian Kuantitatif. Yogyakarta: Gava Media.
Ratminto dan Atik Septi Winarsih. 2006. Manajemen Pelayanan. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 1995. Metode Penelitian Survei.
Jakarta: LP3ES.
Sugiyono. 2005. Metode Penelitian Adminitrasi. Bandung: Alfabeta.
Tjiptono, Fandy. 1997. Total Quality Service. Yogyakarta: ANDI.
Warella,Y. 1997. Kualitas Pelayanan Publik. Semarang: Pidato Pengukuhan
Guru Besar Pada FISIP UNDIP.
Non Buku
Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang. 2006. Profil Kesehatan Kabupaten
Semarang Angka Tahun 2006.
Peraturan Perundangan
Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor
KEP/25/M.PAN/2/2004 Tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks
Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah.
Cerita Rakyat
Menampilkan cerita-cerita buat anak
Jian Anjing Dan Raku Kura-Kura
Juli 15, 2007
Whuuuz… whuuuzz… Ibu Mia Kucing terbangun mendengar suara ribut-ribut. Ia keluar rumah dan bertanya pada Bu Abi Kambing. “Siga si Raja Hutan ulang tahun. Seluruh penghuni hutan diundang ke pestanya malam nanti.” “Kok mendadak begini?” tanya Bu Mia heran. “Raja baru ingat pagi ini. Persiapannya jadi serba terburu-buru. Raja menyuruh Raku Kura-kura dan Kiki Kelinci menempelkan undangan di pohon.” “Oh, dua pelari cepat itu? Pantas ribut ekali,” omel Bu Mia Kucing. “Kalau bukan mereka berdua, siapa lagi yang bisa disuruh?” “Benar juga,” sahut Bu Mia. “Walaupun Raku Kura-kura itu berkaki pendek, namun larinya … wow, luar biasa!” Malamnya, semua hewan di hutan berkumpul di halaman istana. Pakaian dan perhiasan mereka serba gemerlap. Dan tentu saja mereka tak lupa membawa hadiah untuk Raja Siga Singa. Hadiah-hadiah itu diletakkan teratur di atas meja di dekat pagar istana. Hanya Jian Anjing yang tidak menumpuk hadiahnya bersama yang lain. Diletakkannya hadiah mangkuk kristal bening itu di bawah meja. Ia takut mangkuk itu pecah jika tertindih hadiah-hadiah lain. Sementara itu … “Hosh! Hosh! Sepertinya pesta sudah mulai. Ukh, untung Raja belum muncul,” gumam Raku Kura-kura terengah-engah. Ia datang sedikit terlambat. Walau larinya cepat, tapi rumahnya paling jauh dari istana. Ketika hendak bergabung dengan tamu-tamu lainnya, Raku Kura-kura ragu-ragu sejenak. Kemudian secepat kilat ia bersembunyi di bawah meja tempat tumpukan hadiah. “Gawat!” desisnya.” Semuanya berpenampilan mewah. Bisa-bisa aku jadi tamu berpenampilan terburuk,” Raku Kura-kura cemas memandangi tubuhnya yang polos tanpa hiasan sedikitpun. Raku Kura-kura sudah biasa menjadi pusat perhatian karena larinya yang sangat cepat. Apalagi setelah ia berhasil mengalahkan Kiki Kelinci dalam suatu pertandingan lari. Namun, tak mungkin kan ia harus berlari ke sana ke mari untuk menarik perhatian. Ah! Tiba-tiba matanya melihat sebuah mangkuk kristal indah di sampingnya. Milik siapa ini? pikir Raku Kura-kura. “Ah, aku tahu!” serunya ketika mendapat ide. Gluduk gluduk! Dengan hati-hati ia menggelindingkan mangkuk itu ke balik semak-semak. Dibalurinya dengan getah dan daun sampai warnanya berubah kehijauan. Lebih bagus daripada warna bening tadi. Mangkuk itu lalu diikatnya ke punggungnya dengan akar-akar pohon. Berat, tapi tak jadi soal. Penuh percaya diri Raku Kura-kura masuk ke halaman istana. Semua mata langsung tertuju padanya. “Wah, Raku Kura-kura! Indah sekali benda yang ada di punggungmu! Hijau kemilau seperti zamrud!” decak para tamu kagum. Raku Kura-kura mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Ia puas diperhatikan seperti itu. Namun Jian Anjing menatapnya curiga. Ia yakin benda di punggung Raku Kura-kura adalah mangkuk kristal miliknya. Jian Anjing segera memeriksa kolong meja tempat hadiah. Benar! Mangkuk kristalnya menghilang! Ia langsung berteriak, “Raku Kura-kura, pencuri! Kembalikan mangkuk kristalku!” Tamu-tamu pesta kaget dan bingung. “Cepat lepaskan mangkuk itu dari punggungmu!” Jian Anjing berusaha menarik lepas mangkuk itu. Tapi akar pohon yang melilit terlalu kuat. Keduanya sama-sama terpental. Tiba-tiba terdengar suara menggelegar, “Siapa yang berani membuat keonaran di hari ulang tahunku?!” Siga si Raja Hutan muncul. Ia duduk di singasananya sambil melotot ke arah Raku Kura-kura dan Jian Anjing. Semua terdiam menahan napas. “Maaf, Baginda,” sembah Jian Anjing hormat. “Tapi mangkuk yang akan hamba hadiahkan untuk Baginda telah dicuri Kura-kura ini.” “Tidak, Baginda!” bantah Raku Kura-kura tegas. “Mangkuk ini hamba temukan di kolong meja itu. Hamba cuma bermaksud meminjamnya sebentar.” “Tapi kau mengambilnya tanpa seijinku. Itu mencuri namanya!” Keduanya terus berbantahan. “DIAM!” bentak si Raja Hutan. Ia menyuruh Raku Kura-kura segera mengembalikan mangkuk itu. “Tapi akar-akar yang melilit di tubuh hamba terlalu kuat. Sepertinya … mangkuk ini tidak bisa dilepas,” elak Raku Kura-kura. “Raku Kura-kura, aku tahu kau menyukai mangkuk itu,” kata Siga Raja Hutan. “Jian Anjing sebenarnya hendak memberikan mangkuk itu untukku. Tapi rasanya mangkuk itu memang lebih pantas untukmu. Baiklah, kuizinkan kau memilikinya. Mulai sekarang, teruslah ke mana-mana dengan mangkuk di punggungmu.” “Terima kasih, Baginda,” Raku Kura-kura mencibir ke arah Jian Anjing yang terpaksa merelakan mangkuk itu. “Tapi…” lanjut Siga Raja Hutan, “Sebagai gantinya, kemampuan berlari cepatmu kuberikan pada Jian Anjing. Adil, bukan?” Sejak itu Raku Kura-kura cuma bisa berjalan lambat-lambat, dan menjaga agar mangkuk kristal di punggungnya tidak jatuh. Sering ia menyesali keadaan dirinya. Karena tak ada lagi yang mengelu-elukan kecepatan larinya. Itu sebabnya sampai sekarang bangsa kura-kura memiliki mangkuk keras di punggungnya. Dan tetap berjalan lambat. Kalau bertemu makhluk lain, mereka cepat-cepat menyusupkan kepala ke dalam mangkuknya. Mungkin malu kalau ada yang menanyakan tentang Raku, nenek moyang mereka yang serakah. Sementara itu, bangsa anjing sampai kini bisa berlari cepat. Dan terbiasa mengejar pencuri seperti Jian, nenek moyang mereka.
Rabu, 06 Juni 2012
BAHAN AJAR
Satuan pendidikan : SMA
Mata pelajaran : bahasa Indonesia
Kelas/ semester : XI/I
Standar kompetensi : Mendengarkan
Kompetensi Dasar : Menemukan nilai-nilai dalam cerpen yang dibacakan
LEMBAR PEGANGAN GURU
(LPG)
Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel.
Cerita pendek atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan short story, merupakan satu karya sastra yang sering kita jumpai di berbagai media massa. Namun demikian apa sebenarnya dan bagaimana ciri-ciri cerita pendek itu, banyak yang masih memahaminya.
Cerita pendek apabila diuraikan menurut kata yang membentuknya berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut : cerita artinya tuturan yang membentang bagaimana terjadinya suatu hal, sedangkan pendek berarti kisah pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam situasi atau suatu ketika ( 1988 : 165 ).
Menurut Susanto dalam Tarigan (1984 : 176), cerita pendek adalah cerita yang panjangnya sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri.
Sementara itu, Sumardjo dan Saini (1997 : 37) mengatakan bahwa cerita pendek adalah cerita atau parasi (bukan analisis argumentatif) yang fiktif (tidak benar-benar terjadi tetapi dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, serta relatif pendek).
Dari beberapa pendapat di atas penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan cerita pendek adalah karangan nasihat yang bersifat fiktif yang menceritakan suatu peristiwa dalam kehidupan pelakunya relatif singkat tetapi padat.
Ciri-ciri Cerita Pendek
Di atas penulis kemukakan bahwa masih banyak orang belum mengetahui ciri-ciri sebuah cerita pendek. Mengenai hal tersebut, di bawah ini penulis kemukakan ciri-ciri cerita pendek menurut pendapat Sumarjo dan Saini (1997 : 36) sebagai berikut.
Ceritanya pendek ;
• Bersifat rekaan (fiction) ;
• Bersifat naratif ; dan
• Memiliki kesan tunggal.
Pendapat lain mengenai ciri-ciri cerita pendek di kemukakan pula oleh Lubis dalam Tarigan (1985 : 177) sebagai berikut.
• Cerita Pendek harus mengandung interprestasi pengarang tentang konsepsinya mengenai kehidupan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
• Dalam sebuah cerita pendek sebuah insiden yang terutama menguasai jalan cerita.
• Cerita pendek harus mempunyai seorang yang menjadi pelaku atau tokoh utama.
• Cerita pendek harus satu efek atau kesan yang menarik.
Menurut Morris dalam Tarigan (1985 : 177), ciri-ciri cerita pendek adalah sebagai berikut.
• Ciri-ciri utama cerita pendek adalah singkat, padu, dan intensif (brevity, unity, and intensity).
• Unsur-unsur cerita pendek adalah adegan, toko, dan gerak (scena, character, and action).
• Bahasa cerita pendek harus tajam, sugestif, dan menarik perhatian (incicive, suggestive, and alert).
1.1 Jenis Cerpen
Jenis-jenis cerpen ada 3, yaitu :
Cerpen Kedaerahan
Contoh : - Rumah Untuk Kemenakan
- Gampong
- Orang Kaya Baru, dll
Cerpen Nasional
Contoh : - Jalan Soeprapto
- Jiwa Yang Terguncang
- Senyuman Terakhir, dll
Cerpen Pop
Contoh : - Perempuan Disimpang Tiga
- Roda Kehidupan
- Pelabuhan Makin Jauh
- Anggap Aku Bulan
- Kisah Dikantor Pos, dll
1.2 Anatomi Cerpen
Setelah mengerti betul definisi cerpen, karakteristik cerpen dan unsur-unsur yang wajib ada dalam membangun cerpen, maka sejatinya Anda sudah sangat siap untuk menciptakan sebuah cerpen. Sebelum menulis cerpen ada baiknya anda mengetahui anatomi cerpen atau bisa juga disebut struktur cerita. Umumnya anatomi cerpen, apapun temanya, di manapun settingnya, apapun jenis sudut pandangan tokohnya, dan bagaimanapun alurnya memiliki anatomi sebagai berikut:
1. Situasi (pengarang membuka cerita)
2. Peristiwa-peristiwa terjadi
3. Peristiwa-peristiwa memuncak
4. Klimaks
5. Anti Klimaks
Atau, komposisi cerpen, sebagaimana ditandaskan H.B.Jassin dapat dikatakan sebagai berikut:
1. Perkenalan
2. Pertikaian
3. Penyelesaian
Cerpen yang baik adalah yang memiliki anatomi dan struktur cerita yang seimbang. Kelemahan utama penulis cerpen pemula biasanya di struktur cerita ini.
Mata pelajaran : bahasa Indonesia
Kelas/ semester : XI/I
Standar kompetensi : Mendengarkan
Kompetensi Dasar : Menemukan nilai-nilai dalam cerpen yang dibacakan
LEMBAR PEGANGAN GURU
(LPG)
Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel.
Cerita pendek atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan short story, merupakan satu karya sastra yang sering kita jumpai di berbagai media massa. Namun demikian apa sebenarnya dan bagaimana ciri-ciri cerita pendek itu, banyak yang masih memahaminya.
Cerita pendek apabila diuraikan menurut kata yang membentuknya berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut : cerita artinya tuturan yang membentang bagaimana terjadinya suatu hal, sedangkan pendek berarti kisah pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam situasi atau suatu ketika ( 1988 : 165 ).
Menurut Susanto dalam Tarigan (1984 : 176), cerita pendek adalah cerita yang panjangnya sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri.
Sementara itu, Sumardjo dan Saini (1997 : 37) mengatakan bahwa cerita pendek adalah cerita atau parasi (bukan analisis argumentatif) yang fiktif (tidak benar-benar terjadi tetapi dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, serta relatif pendek).
Dari beberapa pendapat di atas penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan cerita pendek adalah karangan nasihat yang bersifat fiktif yang menceritakan suatu peristiwa dalam kehidupan pelakunya relatif singkat tetapi padat.
Ciri-ciri Cerita Pendek
Di atas penulis kemukakan bahwa masih banyak orang belum mengetahui ciri-ciri sebuah cerita pendek. Mengenai hal tersebut, di bawah ini penulis kemukakan ciri-ciri cerita pendek menurut pendapat Sumarjo dan Saini (1997 : 36) sebagai berikut.
Ceritanya pendek ;
• Bersifat rekaan (fiction) ;
• Bersifat naratif ; dan
• Memiliki kesan tunggal.
Pendapat lain mengenai ciri-ciri cerita pendek di kemukakan pula oleh Lubis dalam Tarigan (1985 : 177) sebagai berikut.
• Cerita Pendek harus mengandung interprestasi pengarang tentang konsepsinya mengenai kehidupan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
• Dalam sebuah cerita pendek sebuah insiden yang terutama menguasai jalan cerita.
• Cerita pendek harus mempunyai seorang yang menjadi pelaku atau tokoh utama.
• Cerita pendek harus satu efek atau kesan yang menarik.
Menurut Morris dalam Tarigan (1985 : 177), ciri-ciri cerita pendek adalah sebagai berikut.
• Ciri-ciri utama cerita pendek adalah singkat, padu, dan intensif (brevity, unity, and intensity).
• Unsur-unsur cerita pendek adalah adegan, toko, dan gerak (scena, character, and action).
• Bahasa cerita pendek harus tajam, sugestif, dan menarik perhatian (incicive, suggestive, and alert).
1.1 Jenis Cerpen
Jenis-jenis cerpen ada 3, yaitu :
Cerpen Kedaerahan
Contoh : - Rumah Untuk Kemenakan
- Gampong
- Orang Kaya Baru, dll
Cerpen Nasional
Contoh : - Jalan Soeprapto
- Jiwa Yang Terguncang
- Senyuman Terakhir, dll
Cerpen Pop
Contoh : - Perempuan Disimpang Tiga
- Roda Kehidupan
- Pelabuhan Makin Jauh
- Anggap Aku Bulan
- Kisah Dikantor Pos, dll
1.2 Anatomi Cerpen
Setelah mengerti betul definisi cerpen, karakteristik cerpen dan unsur-unsur yang wajib ada dalam membangun cerpen, maka sejatinya Anda sudah sangat siap untuk menciptakan sebuah cerpen. Sebelum menulis cerpen ada baiknya anda mengetahui anatomi cerpen atau bisa juga disebut struktur cerita. Umumnya anatomi cerpen, apapun temanya, di manapun settingnya, apapun jenis sudut pandangan tokohnya, dan bagaimanapun alurnya memiliki anatomi sebagai berikut:
1. Situasi (pengarang membuka cerita)
2. Peristiwa-peristiwa terjadi
3. Peristiwa-peristiwa memuncak
4. Klimaks
5. Anti Klimaks
Atau, komposisi cerpen, sebagaimana ditandaskan H.B.Jassin dapat dikatakan sebagai berikut:
1. Perkenalan
2. Pertikaian
3. Penyelesaian
Cerpen yang baik adalah yang memiliki anatomi dan struktur cerita yang seimbang. Kelemahan utama penulis cerpen pemula biasanya di struktur cerita ini.
SAHABAT SEJATI
CERPEN
Sahabat Sejati
Betapa enak menjadi orang kaya. Semua serba ada. Segala keinginan terpenuhi. Karena semua tersedia. Seperti Iwan. Ia anak konglomerat. Berangkat dan pulang sekolah selalu diantar mobil mewah dengan supir pribadi.
Meskipun demikian ia tidaklah sombong. Juga sikap orang tuanya. Mereka sangat ramah. Mereka tidak pilih-pilih dalam soal bergaul. Seperti pada kawan kawan Iwan yang datang ke rumahnya. Mereka menyambut seolah keluarga. Sehingga kawan-kawan banyak yang betah kalau main di rumah Iwan.
Iwan sebenarnya mempunyai sahabat setia. Namanya Momon. Rumahnya masih satu kelurahan dengan rumah Iwan. Hanya beda RT. Namun, sudah hampir dua minggu Momon tidak main ke rumah Iwan.
“Ke mana, ya,Ma, Momon. Lama tidak muncul. Biasanya tiap hari ia tidak pernah absen. Selalu datang.”
“Mungkin sakit!” jawab Mama.
“Ih, iya, siapa tahu, ya, Ma? Kalau begitu nanti sore aku ingin menengoknya!” katanya bersemangat
Sudah tiga kali pintu rumah Momon diketuk Iwan. Tapi lama tak ada yang membuka. Kemudian Iwan menanyakan ke tetangga sebelah rumah Momon. Ia mendapat keterangan bahwa momon sudah dua minggu ikut orang tuanya pulang ke desa. Menurut kabar, bapak Momon di-PHK dari pekerjaannya. Rencananya mereka akan menjadi petani saja. Meskipun akhirnya mengorbankan kepentingan Momon. Terpaksa Momon tidak bisa melanjutkan sekolah lagi.
“Oh, kasihan Momon,” ucapnya dalam hati,
Di rumah Iwan tampak melamun. Ia memikirkan nasib sahabatnya itu. Setiap pulang sekolah ia selalu murung.
“Ada apa, Wan? Kamu seperti tampak lesu. Tidak seperti biasa. Kalau pulang sekolah selalu tegar dan ceria!” Papa menegur
“Momon, Pa.”
“Memangnya kenapa dengan sahabatmu itu. Sakitkah ia?”
Iwan menggeleng.
“Lantas!” Papa penasaran ingin tahu.
“Momon sekarang sudah pindah rumah. Kata tetangganya ia ikut orang tuanya pulang ke desa. Kabarnya bapaknya di-PHK. Mereka katanya ingin menjadi petani saja”.
Papa menatap wajah Iwan tampak tertegun seperti kurang percaya dengan omongan Iwan.
“Kalau Papa tidak percaya, Tanya, deh, ke Pak RT atau ke tetangga sebelah!” ujarnya.
“Lalu apa rencana kamu?”
“Aku harap Papa bisa menolong Momon!”
“Maksudmu?”
“Saya ingin Momon bisa berkumpul kembali dengan aku!” Iwan memohon dengan agak mendesak.
“Baiklah kalau begitu. Tapi, kamu harus mencari alamat Momon di desa itu!” kata Papa.
Dua hari kemudian Iwan baru berhasil memperoleh alamat rumah Momon di desa. Ia merasa senang. Ini karena berkat pertolongan pemilik rumah yang pernah dikontrak keluarga Momon.
Kemudian Iwan bersama Papa datang ke rumah Momon di wilayah Kadipaten. Namun lokasi rumahnya masih masuk ke dalam. Bisa di tempuh dengan jalan kaki dua kilometer. Kedatangan kami disambut orang tua Momon dan Momon sendiri. Betapa gembira hati Momon ketika bertemu dengan Iwan. Mereka berpelukan cukup lama untuk melepas rasa rindu.
Semula Momon agak kaget dengan kedatangan Iwan secara mendadak. Soalnya ia tidak memberi tahu lebih dulu kalau Iwan inginberkunjung ke rumah Momon di desa.
“Sorry, ya, Wan. Aku tak sempat memberi tahu kamu!”
“Ah, tidak apa-apa. Yang penting aku merasa gembira. Karena kita bisa berjumpa kembali!”
Setelah omong-omong cukup lama, Papa menjelaskan tujuan kedatangannya kepada orang tua Momon. Ternyata orang tua Momon tidak keberatan, dan menyerahkan segala keputusan kepada Momon sendiri.
“Begini, Mon, kedatangan kami kemari, ingin mengajak kamu agar mau ikut kami ke Bandung. Kami menganggap kamu itu sudah seperti keluarga kami sendiri. Gimana Mon, apakah kamu mau?” Tanya Papa.
“Soal sekolah kamu,” lanjut Papa, “kamu tak usah khawatir. Segala biaya pendidikan kamu saya yang akan menanggung.”
“Baiklah kalau memang Bapak dan Iwan menghendaki demikian, saya bersedia. Saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan Bapak yang mau membantu saya.”
Kemudian Iwan bangkit dari tempat duduk lalu mendekat memeluk Momon. Tampak mata Iwan berkaca-kaca. Karena merasa bahagia.Akhirnya mereka dapat berkumpul kembali. Ternyata mereka adalah sahabat sejati yang tak terpisahkan.
Kini Momon tinggal di rumah Iwan. Sementara orang tuanya tetap di desa. Selain mengerjakan sawah, mereka juga merawat nenek Momon yang sudah tua
Sahabat Sejati
Betapa enak menjadi orang kaya. Semua serba ada. Segala keinginan terpenuhi. Karena semua tersedia. Seperti Iwan. Ia anak konglomerat. Berangkat dan pulang sekolah selalu diantar mobil mewah dengan supir pribadi.
Meskipun demikian ia tidaklah sombong. Juga sikap orang tuanya. Mereka sangat ramah. Mereka tidak pilih-pilih dalam soal bergaul. Seperti pada kawan kawan Iwan yang datang ke rumahnya. Mereka menyambut seolah keluarga. Sehingga kawan-kawan banyak yang betah kalau main di rumah Iwan.
Iwan sebenarnya mempunyai sahabat setia. Namanya Momon. Rumahnya masih satu kelurahan dengan rumah Iwan. Hanya beda RT. Namun, sudah hampir dua minggu Momon tidak main ke rumah Iwan.
“Ke mana, ya,Ma, Momon. Lama tidak muncul. Biasanya tiap hari ia tidak pernah absen. Selalu datang.”
“Mungkin sakit!” jawab Mama.
“Ih, iya, siapa tahu, ya, Ma? Kalau begitu nanti sore aku ingin menengoknya!” katanya bersemangat
Sudah tiga kali pintu rumah Momon diketuk Iwan. Tapi lama tak ada yang membuka. Kemudian Iwan menanyakan ke tetangga sebelah rumah Momon. Ia mendapat keterangan bahwa momon sudah dua minggu ikut orang tuanya pulang ke desa. Menurut kabar, bapak Momon di-PHK dari pekerjaannya. Rencananya mereka akan menjadi petani saja. Meskipun akhirnya mengorbankan kepentingan Momon. Terpaksa Momon tidak bisa melanjutkan sekolah lagi.
“Oh, kasihan Momon,” ucapnya dalam hati,
Di rumah Iwan tampak melamun. Ia memikirkan nasib sahabatnya itu. Setiap pulang sekolah ia selalu murung.
“Ada apa, Wan? Kamu seperti tampak lesu. Tidak seperti biasa. Kalau pulang sekolah selalu tegar dan ceria!” Papa menegur
“Momon, Pa.”
“Memangnya kenapa dengan sahabatmu itu. Sakitkah ia?”
Iwan menggeleng.
“Lantas!” Papa penasaran ingin tahu.
“Momon sekarang sudah pindah rumah. Kata tetangganya ia ikut orang tuanya pulang ke desa. Kabarnya bapaknya di-PHK. Mereka katanya ingin menjadi petani saja”.
Papa menatap wajah Iwan tampak tertegun seperti kurang percaya dengan omongan Iwan.
“Kalau Papa tidak percaya, Tanya, deh, ke Pak RT atau ke tetangga sebelah!” ujarnya.
“Lalu apa rencana kamu?”
“Aku harap Papa bisa menolong Momon!”
“Maksudmu?”
“Saya ingin Momon bisa berkumpul kembali dengan aku!” Iwan memohon dengan agak mendesak.
“Baiklah kalau begitu. Tapi, kamu harus mencari alamat Momon di desa itu!” kata Papa.
Dua hari kemudian Iwan baru berhasil memperoleh alamat rumah Momon di desa. Ia merasa senang. Ini karena berkat pertolongan pemilik rumah yang pernah dikontrak keluarga Momon.
Kemudian Iwan bersama Papa datang ke rumah Momon di wilayah Kadipaten. Namun lokasi rumahnya masih masuk ke dalam. Bisa di tempuh dengan jalan kaki dua kilometer. Kedatangan kami disambut orang tua Momon dan Momon sendiri. Betapa gembira hati Momon ketika bertemu dengan Iwan. Mereka berpelukan cukup lama untuk melepas rasa rindu.
Semula Momon agak kaget dengan kedatangan Iwan secara mendadak. Soalnya ia tidak memberi tahu lebih dulu kalau Iwan inginberkunjung ke rumah Momon di desa.
“Sorry, ya, Wan. Aku tak sempat memberi tahu kamu!”
“Ah, tidak apa-apa. Yang penting aku merasa gembira. Karena kita bisa berjumpa kembali!”
Setelah omong-omong cukup lama, Papa menjelaskan tujuan kedatangannya kepada orang tua Momon. Ternyata orang tua Momon tidak keberatan, dan menyerahkan segala keputusan kepada Momon sendiri.
“Begini, Mon, kedatangan kami kemari, ingin mengajak kamu agar mau ikut kami ke Bandung. Kami menganggap kamu itu sudah seperti keluarga kami sendiri. Gimana Mon, apakah kamu mau?” Tanya Papa.
“Soal sekolah kamu,” lanjut Papa, “kamu tak usah khawatir. Segala biaya pendidikan kamu saya yang akan menanggung.”
“Baiklah kalau memang Bapak dan Iwan menghendaki demikian, saya bersedia. Saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan Bapak yang mau membantu saya.”
Kemudian Iwan bangkit dari tempat duduk lalu mendekat memeluk Momon. Tampak mata Iwan berkaca-kaca. Karena merasa bahagia.Akhirnya mereka dapat berkumpul kembali. Ternyata mereka adalah sahabat sejati yang tak terpisahkan.
Kini Momon tinggal di rumah Iwan. Sementara orang tuanya tetap di desa. Selain mengerjakan sawah, mereka juga merawat nenek Momon yang sudah tua
VISI MISI PROGRAM PEMBANGUNAN BUPATI MUNA
VISI, MISI PROGRAM PEMBANGUNAN BUPATI MUNA
Sebagai dasar langkah kami bekerja dan mengabdikan diri bagi Kabupaten muna sekaligus menjadi tujuan yang ingin di capai selama kurun waktu 5 tahun (2011-2016) kedepan, kami menyusun dan merumuskan Visi, Misi serta Program Pembangunan sebagai berikut :
VISI :
“Terciptanya Masyarakat muna Yang Menuju Kehidupan Yang Sehat Sejahtera”
MISI :
MEMBANGUN KABUPATEN MUNA DENGAN LIMA PILAR
Dalam menjalankan organisasi pemerintahan agar dapat terlaksana dengan Arah tujuan yang jelas , terukur dan berkesinambungan, maka perlu disusun Langkah dan strategi dalam sebuah program pembangunan yang merupakan Suatu kerangka pemikiran untuk mewujudkan sebuah visi dan misi itu, kami Mencanangkan untuk membangun Kabupaten Muna dengan “ Lima Pilar Pembangunan ’’ sebagai podasi dan bingkainya.Kelima pilar tersebut adalah Sebagai berikut :
LIMA PILAR PEMBANGUNAN
1. Peningkatan akhlak dan moral
2. Meningkatkan ekonomi rakyat3. meningkatkan Sumber Daya Manusia
4. Meningkatkan Pelayanan Kesehatan
5. Meningkatkan infrastruktur
1. Pilar Pertama : “ Peningkatan akhlak dan moral ’’
Akhlak dan moral manusia sangat menentukan masa depan daerah dan bangsa. Bagaimana jadinya jika pemimpin mempunyai akhlak dan moral yang tidak baik?, akhlak rakyatnya tidak baik?!
Upaya peningkatan akhlak dan moral itu dilakukan dengan cara melakukan sholat lima waktu berjamaah dan melakukan safari pembangunan,mengurangi kegiatan yang banyak mengundang mudharat, seperti menghapuskan program senam pagi di ganti dengan subuh berjamaah dilanjutkan gotong royong bersama menbersihkan tempat-tempat yang kotor.
2. Pilar Kedua : “ Peningkatan Ekonomi Rakyat ”
Persoalan terbesar yang dihadapi bangsa Indonesia adalah masalah pengangguran dan kemiskinan maka dari itu dengan pilar kedua ini dirancang upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut. Kemiskinan akan membuat seseorang dekat dengan kekufuran.
Pengurangan pengangguran dan meningkatkan ekonomi lemah menjadi mantap merupakan pembangunan skala prioritas dengan cara memberikan dana bergulir kepada masyarakat Rakyat harus diberikan pendidikan dan latihan untuk berusaha dan pinjaman dana bergulir maximal sebesar Rp. 75.000.000,- ( tujuh puluh lima juta rupiah ) / KK, melalui program peningkatan ekonomi rakyat ini setiap bulan bisa mengurangi pengangguran sebanyak 6600 orang setiap bulannya. program ini akan diletakkan di 6 SKPD yaitu, Dinas Perikanan , Pertanian , Perkebunan , Perindustrian dan Perdagangan , Koperasi dan Dinas Peternakan.
3. Pilar Ketiga : “ Peningkatan Sumber Daya Manusia ”
Dengan peningkatan sumber daya manusia, rakyat akan lebih cerdas dalam bersikap, berbuat dan bertindak sesuai dengan aturan.
Pada pilar ini akan dibuat program pelatihan yang intensif terhadap guru dengan cara mendatangkan instrukutur pengajar yang bertaraf nasional dan internasional agar mutu pendidikan Kabupaten muna sejajar dengan pendidikan di pulau jawa.
Menaikan tunjangan guru menjadi skala prioritas, jika pada tahun 2006 tunjangan guru sebesar 1.500.000,-(satu juta lima ratus ribu rupiah) perbulan, maka pada tahun 2012 akan naik menjadi 2.500.000,-(dua juta lima ratus ribu rupiah) perbulan, dengan dinaikannya tunjangan guru diharapkan para guru lebih serius dalam mengajar, membimbing dan membina siswa. selain itu, Guru Honor, dan guru komite akan diberikan juga tunjangan.
Selain itu, saya akan menyiapkan sarana prasarana penunjang dan pendukung sekolah, mengenai biaya sekolah diatur dengan baik dan bagi yang tidak mampu biaya sekolah akan di gratiskan, bagi yang setengah mampu maka akan membayar setengah dari biaya sekolah dan bagi yang mampu harus membayar biaya sekolah keseluruhan. Bagi anak yang berprestasi akan di berikan bea siswa, bea siswa tersebut di peruntukan untuk dalam negeri maupun luar negeri. Dengan demikian diharapkan Kabupaten Muna dapat menyandang Kota Pendidikan. Dengan berjiwa wiraswasta yang handal akan menimbulkan daya saing dan frofesional bagi setiap siswa lulusan.
4. Pilar Keempat : “ Peningkatan Pelayanan Kesehatan”
Pembangunan dibidang kesehatan merupakan faktor terpenting,didalam kehidupan sehari-hari kesehatan merupakan faktor penentu dalam menjalankan segala aktifitas. Untuk itu pembangunan dibidang kesehatan merupakan syarat mutlak yang harus dilaksanakan. Untuk pembangunan kesehatan maka akan dibangun pustu-pustu disetiap desa dan juga akan dibangun puskesmas plus ( rumah sakit mini ) disetiap daerah pemilihan.
Bagi masyarakat yang tidak mampu semua biaya pengobatan akan digratiskan dan dalam pengurusan jamkesda cukup menunjukan surat keterangan dari Kepala Desa sehingga mempermudah masyarakat miskin untuk berobat.
5. Pilar Kelima : “ Meningkatkan Infastruktur “
Banyaknya daerah yang masih terisolasi membuat banyaknya kantong kemiskinan terjadi. Untuk itu membuka isolasi daerah merupakan faktor terpenting dalam meningkatkan ekonomi rakyat, infrastruktur menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi disebabkan adanya tingkat konsumen masyarakat, investasi dan fiskal. Untuk mendorong ketiga faktor tersebut sangat dibutuhkan pembangunan infrastruktur yang baik. Jika infrasrukturnya baik semuanya akan lancar, konsumsi masyarakat akan tinggi, investasi masuk dan kesejahteraan masyarakat akan membangun namun jika pembangunan infrastrukturnya tidak baik, isolasi daerah masih belum di buka, kantong kemiskinan pasti sangat banyak. Investor tidak akan mau menginvestasikan jika infrstuktur masih buruk, dan akan mengurangi minat orang untuk berkunjung ke kabupaten muna.
Membuka isolasi daerah dengan membangun jembatan penghubung yang representatif, membangun jalan-jalan mulai di setiap jalan kabupaten mulai dari jalan kabupaten, kecamatan sampai ke pelosok Desa dan Dusun. Dalam menjadi masyarakat muna madani serta untuk pencapaian Visi dan Misi kabupaten Muna, lima pilar tersebut akan berjalan secara beriringan dan bersinergi tidak ada yang dulu atau yang belakangkan semuanya berjalan beriringan,sedikit berkata akan tetapi perbanyak bukti.
Itulah visi dan misi saya ,insya Allah jika saya terpilih menjadi Bupati Muna maka saya akan mewujudkan dan marilah kita bahu membahu membangun kabupaten muna,oleh karena itu,pilihlah saya sebagai bupati muna,jangan lupa coplos NO.1
Langganan:
Postingan (Atom)